Rani yang terbangun di tubuh Perebus Air Agung pun tidak terima dan langsung cepat-cepat pergi Rani berusaha mandi dan tampil rapih.Tapi usaha tetap tidak terlihat, perebus tetap saja seperti perebus. Supaya cepat Rani pun mencegat Taksi.
“Bang Taksi Bang!” seru Rani.
“Mau masuk?.” Jawab si Supir.
“Rumah Sakit Abrakadabra ya Bang.”
Rani masuk taksi tanpa babibu. Setelah 15 menit perjalanan dengan Taksi. Rani pun tiba di depan Rumah Sakit Abrakadabra. Rani langsung buka pintu, dan kabur.
“Neng! Belom bayar Neng!?” seru supir taksi.
“Udah bang saya ikhlas!” jawab Rani dan pergi masuk lobi.
“Neng! Saya yang ga iklas!!!” ujar supir Taksi.
Rani masuk melalui pintu lobi dan langsung pencet lift. Ternyata banyak juga orang-orang yang masuk lift. Rani harus berdesakan, dan entah kenapa banyak orang yang tutup hidung.
“Ih bau kunyit ih” ujar orang-orang.
“siapa yang kentut ya? “ ujar orang-orang
“Lo kali ya? Ih bukan.. lo kali” orang-orang saling menuduh.
“ih biasanya yg nuduh yg kentut.” Orang-orang masih saling menuduh.
Baru sampai lantai 3 semua orang sudah keluar karena bau kunyit.
“Bau badan perebus air agung kali..” pikir Rani dalam hati.
Sampai juga di lantai 15, lantai paling atas, lantai orang-orang kaya, lantai orang yang biasanya tidur di hotel bintang lima tapi makan di kaki lima. Sambil melihat papan-papan nama di depan kamar, tiba-tiba terdengar ribut-ribut, seperti ada kerusuhan, vas pecah, dan suara sony tulung. Ketika Rani masuk suasana sudah ricuh. Rani melihat tubuhnya sendiri.
“Kamu jadinya siapa??” teriak Mama Agung kepada tubuh Rani.
“Saya Janu Tante! Ga percaya bgt sih lo Men” ujar tubuh Rani.
“Tante juga sebenarnya siapa??” tanya tubuh Rani isi Janu.
“Saya Papa Agung dan sekarang saya buta!” jawab Mama Agung isi Papa
“Kalo kamu diisi siapa?” tanya Mama Agung isi Papa kepada badan Papa Agung.
“Saya Perebus Air Agung! Sekarang saya jadi Tuan!! “ ujar Papa isi perebus dengan bangga.
“Jadi kalau begitu…. Ma? KAMU DITUBUH JANU???” ujar Mama isi Papa.
“Iya nih Pa.. Mama jadi gosong begini!” rengek Janu isi Mama.
“Ma! Pa!” seru Rani di tubuh perebus.
Semua orang menoleh kea rah perebus.
“KAMU…..? ISI SIAPA KAMU?” tanya Mama isi Papa.
“Aku isi Rani… Pa.” ujar perebus isi Rani mau nangis.
“Ya Allah Gusti anakku..” ujar Janu isi Mama yang langsung memeluk Rani di tubuh perebus.
“UDAH GA USAH PAKE LAMA, SITUASI KYK GINI, PAPA GA MAU BUTA, GIMANA KALAU KITA PANGGIL DOKTER?!” cetus Mama isi Papa.
“Heh, mikir dong lo! Dokter Boyke aja ga bakalan percaya kalau jiwa kita ketuker-tuker gini!” ujar Janu isi Mama.
“Udah deh, kita panggil polisi aja, kita tangkep pelakunya!” ujar Rani isi Janu.
“Tuan dan Nyonyah, menurut saya mending kalau kita panggil dukun aja.” Cetus Papa isi Perebus.
“SETUJU-SETUJU!” ujar semua nya.
***
Setelah menelpon si dukun. Akhirnya datanglah dukun yang paling terkenal seantero perkampungan si perebus. Datanglah si Dukun ke ruang VVIP. Perawakannya seperti si buta dari goa hantu, tapi kurang monyet aja di bahu.
“e-e-ehem, mana monyetnya? Eh salah mana korbannya?” tanya si dukun.
“Kami semua korbanya Kun.” Ujar Janu isi Mama.
“Cepetan Kun sebelom wabahnya meluas” ujar Rani isi Janu.
“Heh kamu pikir ulet bulu apa.” Ujar Dukun. Tiba-tiba Si Dukun mengeluarkan satu botol air dan ditaro di semacam panci.
“Kun-kun, air apaan tuh? Air ponari ya?” tanya Rani isi Janu.
“Sudah jangan banyak cing cong, kalian minum air ini semua.” Perintah Dukun. Semua bergiliran meminum air dari panci tersebut.
“Cuih, air apaan nih? Perasaan air ketek gw lebih enak?” ujar Rani isi Janu.
“Kamu pernah minum air ketek kamu?” tanya si Dukun.
“Ya daripada gw minum air ketek lo kun.” Jawab Rani isi Janu.
“Hem hem, itu yang barusan kamu minum air ketek saya.” Jawab Dukun.
“Wek sialan lo, ga gw bayar lo!” jawab Janu isi Mama.
“Diam ! saya sihir nanti mati kau.” Ujar Dukun galak.
Langsung semua serentak diam.
“Setelah saya terawang, dari ekspresi kalian setelah meminum air ketek saya.. di antara kalian ada setidaknya 2 perempuan..” ujar dukun belum selesai.
“AMPUN KUN AMPUN UDAH KUN STOP KUN!” ujar Papa isi perebus.
“Heh saya belom selesai tauk! Maksud saya 2 perempuannya itu…Entah Rani atau Mama nya pernah melakukan kesalahan kepada seseorang. Seperti merendahkan sampai mengigit kris” ujar Dukun
“Oh my God, jangan-jangan nenek-nenek Tua itu lagi yang buat semua ini!” tiba2 cetus perebus isi Rani.
“Siapa itu Ran??? Rame-rame aja kita ke sana! Kita udak udak! Rumahnya kita jadiin Gudang Garam!” ujar Rani isi Janu.
“Heh stress! Itu udah nenek tau! Bisa aja dia neneklo? Lo gila ya?” seru perebus isi Rani.
“Udah-udah pokonya kita samperin dulu tuh Rumah Neneknya Janu.” Ujar Mama isi Papa.
“What the..ep” ujar Rani isi Janu.
***
Setelah 15 menit dengan supir taksi yang sama dan ternyata masih tunggu di luar. Akirnya mereka tiba di depan kediaman keluarga Agung. Ternyata ada seorang Nenek-nenek berdiri tegak di depan Rumah. Sebelum mereka turun dari taksi mereka sempat berdiskusi.
“Kamu yakin Ran ini neneknya?” tanya Janu isi Mama.
“Kyknya iya deh Ma, tp waktu itu dia bungkuk rapuh pake tongkat gitu kok sekarang bisa berdiri tegak gt ya?” tanya perebus isi Rani.
“Udah deh mendingan bayar dulu nih argo, terus pada turun” ujar supir taksi isi supir taksi.
“ Heh, duit aja maunya cepet. Mati aja maunya lama” ujar Janu isi Mama. Dengan suk-sukan mereka semua turun dari taksi. Mereka langsung mendatangi Nenek tua tersebut.
“Nek? Ini benar kan nenek yang kemarin saya maki hina dan cemooh?” tanya perebus isi Rani.
“Hehehe ternyata kalian sudah saling tukar menukar jiwa ya.. hehehe Iya saya orangnya.. hehehe” ujar Nenek tua.
“Nek waktu itu bukannya pake tongkat dan bungkuk gt ya, kok bisa sih berdiri tegak begini?” tanya perebus isi Rani.
“yang jelas.. bukan karena kuat dan hebatku hehehe” ujar Nenek Tua.
“Yaudah-yaudah balikin our soul ke badan kita masing2 please!” ujar Rani isi Janu.
“hehehe” ujar Nenek Tua.
“Nek lo jangan ketawa terus kenapa, abis nih durasi!” ujar Mama isi Papa.
“begini caranya, mudah saja.. hehehe.. saya melihat banyak sekali ketidak jujuran dan keterusterangan serta kenistaan dan kemurahan di kehidupan kalian. Saya ingin kalian semua jujur satu per satu. Setelah itu kalian akan bisa kembali ke bentuk asal. Dan saya minta jangan ada yang berisik kalau satu orang lagi bicara. Di mulai dari Janu isi Rani!” ujar Nenek Tua.
“Oke saya akan jujujur, Saya suka sama kamu Ran, saya sebenarnya senang saya tertukar sama badan kamu Ran. Saya merasa selalu dekat sama kamu Ran! Sumpah Ran I love you! Melebihi rapper-rapper idolaku Ran!” ujar Rani isi Janu.
“Maaf Jan, tapi kita sudah hangover eh maksud saya game over! Saya tidak mau nikah sama kamu atau bapak kamu Jan, saya lebih pilih menikah sama Mas Ari.” Ujar perebus air isi Rani.
“Ma.. maaf ya sebenernya gaji Papa lebih dari itu Ma. Papa suka umpetin di berangkas rahasia Papa Ma.. maafin Papa ya sebenernya gaji papa 3 kali lipat dari yang papa kasih ke Mama. Satu lagi, Ma lo jangan galak-galak dong.” Ujar Mama isi Papa.
“DASAR TIKUS KECIL KAMU YA! Ternyata suka sembunyi2kan uang dari Mama Ya? UDAH PERNEH KETELEN SENDAL BELOM KAMU HAH?” seru Janu isi Mama.
“Oi oi oi,,,,cukup .Sekarang giliran Anda Mama untuk bicara jujur.” ujar nenek tua.
“Pa sebenernya gapapa sih Pa, kalau Papa sembunyikan gaji Papa. Karena sebenarnya Mama menyembunyikan laki-laki lain Pa.. Mama selingkuh Pa..” ujar Janu isi Mama.
“Sama siapa????” Tanya semua orang serentak.
“Sama… ar… ar..” ujar Janu isi Mama gagap mendadak.
“ARI??? MAS ARI??” ujar perebus isi Rani.
“Bukan! Perebus Air Agung” ujar Janu isi Mama.
“Apasih ga nyambung… HAH APA???” tanya perebus isi Rani.
“APAAAA????” Semua orang pun ikut kaget.
“Sekarang giliran Papa isi perebus air agung bicara.” Ujar Nenek Tua.
“Saya sebenarnya senang, saya tukeran nasib sama Tuan. Karena saya merasa memang itulah posisi Saya, sebagai bapak dan suami yang baik dan penuntun Rani dan Mama Agung.” Ujar Perebus Air.
“MAKSUDNYA???” tanya semua orang ga ngerti.
“Baiklah, mungkin Mama ga mau bicara. Tapi.. Rani, kamu anakku…” ujar perebus air agung.
“WHAT?!!! APAAAAAAA?????!!!!” ujar semua orang kaget!!
Dan dalam hitungan detik, seperti ada angin kencang dan hujan lebat… dan kembali ke tubuh masing-masing. Semua orang memegang tubuh masing-masing dan tersenyum lebar.
“Aku menjadi diriku kembali! Agung!” ujar Rani isi Rani.
“Aku hitam lagi.” ujar Janu isi Janu.
“Aku bisa melihat lagi..” ujar Papa Agung.
“Tolong-tolong gelap” ujar Mama Agung yang kembali buta dan dituntun oleh Perebus Air Agung.
“Yang penting kalian semua sudah kembali ke tubuh masing-masing. Jangan di sesali anggap semua ini lembaran baru bagi kalian” ujar Nenek Tua.
“hari ini adalah lembaran baru bagiku” ujar Janu.
“ku di sini karena kau yang memilihku” ujar Rani.
“tak pernah ku ragu akan cintamu” ujar Mama kepada Papa dan Perebus Air Agung.
“inilah diriku dengan melodi untukmu.” Ujar Perebus dan Papa Agung.
“dan bila aku berdiri.. tegak sampai hari ini.. bukan karena kuat dan hebatku..” ujar Nenek Tua.
“semua karena cinta semua karena cinta.. tak mampu diriku berdiri tegak terima kasih cinta…”ujarsemuanya.
No comments:
Post a Comment