Saturday, April 9, 2011

BAB IV

BAB IV

Papa Agung segera meraih hp nya dan menelpon minta bantuan.

“Pak Gawat, cepat datang di kediaman Agung pager putih paling pojok!” ujar Papa Agung di telpon.

“Apa nomernya? Nomer apaan? Bapak pikir saya mau main togel apa?” Tanya Papa Agung.

“Oh nomer rumah saya? Nganu nomor 1 Pak hehe” jawab Papa Agung.

Tidak sela brapa lama dari Papa Agung Telpon mulailah terdengar suara sirene mendekat.

“Ngiu-ngiu” bunyi sirene terdengar di daerah kediaman Agung. Para tamu yang hadir di Kediaman Agung pun panik seakan hari ini hujan bulu ketek.

“Bu Agung gapapa kan? Bu? Bu?” tanya tamu-tamu yang masih khawatir atau hanya sekedar penasaran saja dengan kabar Mama Agung.

“Dasar pecel lele setan, mata gw jadi panas begini huh hah” ujar Mama Agung yang meraung-meraung karena matanya panas akibat kemasukan pecel lele serta duri-durinya.

“Iya Ma sabar-sabar, ambulansnya udah dateng, ini tinggal lep kok.” Ujar Papa nya menenangkan Mama Agung.

“ Lap lep lap aja lo! Nih mata gw udah kaya kena salep!” ujar Mama Agung.

Ternyata di luar rumah keluarga Agung pun tetangga sudah berkrumunan sambil berbisik-bisik

“Ih itu Ibu Agung kenapa tuh ya?”

“Kena Azab kali ya.”

“Ah masak sih katanya dia kena duri apaa gitu matanya..”

“Duri apaan? Durian?”

Tukang rebus air agung yang sekarang merangkap jadi sekuriti pun keluar rumah dan berusaha mengosongkan jalanan. Tapi usaha sia-sia akhirnya Sang Rani Agung pun turun ke jalan untuk membubarkan kerumunan.

“Heh bubar-bubar!” seru Rani. Kerumunan orang pun mulai berhilangan. Tapi ada seorang nenek tua berjalan sambil memegang tongkat (kalau barbell berat dong).

“Hey anak muda! Berani sekali kamu suruh kami bubar?” tegur nenek bertongkat.

“Hey nenek tua! Anda tidak sadar usia?” tanya Rani agung.

“Heh, saya gini-gini masih 15 tahun!” jawab nenek bertongkat.

“Iya 15 tahun lagi…” jawab Rani dengan kurang ajar.

“Dasar Kamu Anak Gila! Mau jadi batu kamu ya?” ancam nenek Tua tersebut.

“Engga tuh.” Jawab Rani singkat.

“syausyetausyekausyemausyesyaw” tiba-tiba nenek itu mengluarkan bahasa-bahasa asing yang tidak pernah Rani dengar. Tiba-tiba nenek itu melempar keris nya ke arah Rani.

“ SSSEETTTT!” Tapi dengan tanggas Rani menangkap keris tersebut dengang giginya dan bergegas masuk ambulans.

***

Akhirnya Rani, Papa dan Mama sampai juga di Rumah Sakit Raden. Ternyata Raden selain memiliki Yayasan di bidang Edukasi , beliau juga memiliki Yayasan di bidang Kesehatan. Karena itu Mama Agung mendapat ruang VVIP, kamarnya seperti five stars hotel.

“Amboi kamarnya.. nggak kalah sama kamar kita Pa!” ujar Mama Agung bahagia.

“Betul-betul, apa kita pindah sini aja ya Ma?” tanya Papa Agung yang juga bahagia.

Tiba-tiba Pak Abra datang menjenguk bersama Janu.

“Kami menyediakan yang terbaik untuk keluarga mantan anak eh maksud saya.. keluarga calon istri saya. Kamar ini didesign kusus buat orang kaya.. yaa seperti kita-kita gitulah HAHA (om jin ver 3)” ujar Pak Abra sambil ketawa-ketawa.

“Dan seperti yang kalian lihat, kasur pun king size, lantai dari marmer, bantal bulu angsa, dan yang paling penting dari kualitas 5 stars kami, kami pun juga menyediakan chicken nugget 5 stars di kulkas Anda.. HAHA seperti di kulkas rumah saya gitu deh. “ ujar Pak Abra sambil ketawa-ketawa lagi.

“Kalo ada apa-apa tinggal tekan tombol di sebelah kasur Anda, itu kalau ditekan otomatis suster kami akan datang. Terus itu juga ada tv 3D sama dvd player..” ujar Pak Raden.

“Asik bisa nonton family 100 3D kita nih. Sony tulungnya keluar-keluar gitu kali ya haha” Ujar Papa Agung.

“Hahah hadiah jackpotnya bisa keluar juga ya Pa” ujar Mama Agung.

“dan kami juga ada radio, ati-ati radionya sensornya sensitive sekali jadi kalau di sentuh dikit aja suka keluar ribut-ribut gitu… Ya kayak Mantan Istri saya gitu deh HAHA” ujar Pak Abra sambil ketawa-ketawa.

“Enough is Enough Pa! Janu ga kuat lagi sama kelakuan Papa. Pokonya setelah Mama Sani nikah sama Om Ari, Janu get outta of the hoz! And you Pa jangan pernah robek-robek poster snoop dogg dan 50cent milik Janu lagi. “ ujar Janu sambil mendorong bahu Pak Abra.

“Halah poster anjing sama koin aja kok diributin! Belajar kamu yang bener biar bisa terusin yayasan Papa. “ ujar Pak Abra.

“Buat apa seorang Januari Februari April Maret Mei belajar? Kalo akhirnya cuman jadi Desember?“ balas Janu kesal.

“Eh tapi kalo kata Vina Panduwinata.. Desember itu Ceria loh dan milik kita berasama..” ujar Pak Abra sambil meledek.

“Ga tau ah pokonya , Janu berharap Mama Sani akan cepat menikah dengan Om Ari!” ujar Janu.

“Heh! Mas Ari tuh punya gw tau! Udah deh lo iklasin aja kenapa sih gw sama mas Ari!” seru Rani memotong pembicaraan mantan pacar dan calon suaminya.

“Siapa sih sebenarnya Ari itu? Tapi kamu labil sekali ya, dulu mantan kamu kayak kuli bangunan gini sekarang mau nikah sama orang yang mirip Ari Wibowo. Hebat kamu belajar dari kesalahan fatal.” Ujar Papa Agung.

“Iya Pa, Rani merasa Rani khilaf pada saat itu dan sekarang seperti dibukakan pintu sama yang di Atas.” Ujar Rani.

“Ini lantai paling atas loh Ran.” Ujar Pak Abra.

“ Eh kok gelap? Mati lampu ya? Katanya hotel bintang 5 kok tiba-tiba kayak kualitas hotel rodeo gini sih!” ujar Mama Agung kesal yang tiba-tiba merasa gelap.

“Ma ini ga mati lampu.” Ujar Papa Agung.

“Yaudah kalau gitu buka jendela dan pintu.” Ujar Mama Agung.

“Mah..” ujar Rani singkat dan agak panic.

“Tante?? Gapapa??” tanya Janu.

“Bu Gung??!” tanya Pak Abra.

“JANGAN-JANGAN ! GW BUTAAAAA!!!” jerit Mama Agung di ruang VVIP dan ternyata memang Mama Agung buta.

“Mama Buta???” Rani pun masih shock.

“Oh my goat. You’re blind!” ujar Janu.

“Bu Gung? Anda tidak bisa lihat saya Bu Gung?” tanya Pak Abra.

“Engga Pak, tapi kalau denger bisa!” ujar Mama Agung.

“Yah kalo ga bisa denger itu namanya tuli dong Bu.” Ujar Pak Abra.

“MAMA BUTA???? OH TIDAK!” seru Papa Agung tapi dalam hati “Yes yes”

***

Diakibatkan karena kebutaan yang dialami Mama Agung. Rani dan Papa Agung pun tidur di rumah sakit. Tapi selain itu juga, Papa Agung pun ingin menikmati tivi 3D dan dvd player serta radio yang katanya mirip mantan istri Pak Abra. Rani yang dari tadi sibuk ngrusin Mama Agung pun lelah dan Ia tertidur di sofa.

Keesokan harinya Rani terbangun dari tidurnya, bukan di sofa rumah sakit melainkan di kasur keras. Bantal pun keras dan menyakiti kepala Rani. Hawa pun panas seperti ruangan tidak ber AC. Bau kunyit dan jahe pun tercium dari ketek Rani.

“Anjir kok gw bau banget gini?” tiba Rani terlunjak dari tidurnya. Tiba-tiba dia menyadari baju yang dipakai bukan baju yang ia pakai kemarin.

“Gw kan kemaren pake piyama elit tidurnya, kok sekarang jadi pake kaos putih kafan gini sih!”ujar Rani dan Rani mulai menyadari badannya pun agak gemukan dan kulit agak hitaman seperti ngebajak sawah.

“Ada yang gak beres nih cyin.” Rani langsung bangkit dari kasur dan melihat ke kaca terdekat.

“OH MY GOAT!” dia kaget setengah mati dan meraba-raba kaca.

“AKU… AKU…. BADANKU… “

“TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK! AKU BERUBAH WUJUD JADI PEREBUS AIR AGUNG!!” seru Rani tidak percaya sambil memukul kaca.

“KEMBALIKAN AKU KE TUBUH AGUNGKU!”

No comments:

Followers

Traffic

About Me

My photo
being 18th and legal

Ads