Friday, April 1, 2011

BAB III

Bab III

Setelah menggantung jari perebus air agung. Papa Agung pun tiba-tiba ingat mengenai perjodohan Rani dengan Sang Rekan Papa Agung.

“Oh Ya Rani Anakku! Papa baru ingat!” ujar Papa Agung.

“Apa Family 100? “ tanya Rani.

“Bukan itu…”

“Kata Berkait?”

“Bukan.. bukaaaaaan”

“Komuni kata?!!!”

“Bukaaaaan!!!!!”

“Piramida Emas?!”

“BUKAN! TAPI PERNIKAHAN DINI!” ujar Papa nya teringat tentang perjodohan Rani dan Sang Rekan.

“Hah? Agnes Maunika (Mau nikah) maksud Papa?” tanya Rani.

“IYA SEBENTAR LAGI REKAN AGUNG AKAN DATANG MENDING KAMU MANDI SEGERA!!!!” ujar Papanya kalangkabut. Tapi semua itu sudah telat. Bel Rumah mereka berbunyi.

“Teteretettetet” bel Keluarga Agung berbunyi. Papa, Mama dan Rani pergi membuka pintu gerbang Agung.Terlihat mobil Jacquar silver di depan rumah Rani.

“Untung mobil kita ga kebanting nak sama mobil jacquarnya.” Ujar Papa Agung.

“Iya iyalah ga kebanting, orang kita aja sekarang ga punya mobil” jawab Rani.

Turunlah sosok orang pria dari pintu kemudi mobil Jacquar. Pria tampan, perawakan mirip barry prima saat dia masih prima-primanya.

“Selamat malam, ini benar rumah keluarga Agung?” tanya si barry prima.

“Iya Benar, Apa nama mas Barry?” tanya Rani.

“Tau darimana nama saya Barry?” tanya Mas Barry.

“Abis Mas mirip Barry Prima.” Jawab Rani.

“Hahaha bisa saja nih Si Non.” Jawab Mas Barry sambil membuka pintu belakang mobil. Ternyata ada satu orang lagi di dalam mobil Jacquar di seat belakang mobilnya. Munculah sosok pria botak berkumis pak raden turun dari mobil. Pria berkisar usia 45 tahun keluar dari mobil dengan tampang serius sambil membetulkan letak selipan celana dalam.

“ Saya Raden Abraham” ujar Pria botak tersebut.

“Jeger Jeger” tiba-tiba ada suara petir. Ternyata backsound dari HP Mas Barry.

“Halo Pak, apa kabar? Gimana Bisnis kayunya?” tanya Papa Agung basa basi.

“Maksud Anda? Bisnis Illegal Logging saya ? HAHAHAHA” tanya Raden sambil ketawa ala om jin ver 4.

“hahaha iya-iya silakan masuk deh Pak.” Ujar Papa Agung bingung harus jawab apa.

Tetapi anehnya, Rani merasa wajah Raden Abraham familiar dan sering dilihat. Apakah dia pernah main family 100 atau kata berkait?

***

Di dalam ruang tamu keluarga Agung, mereka ber 4 duduk di sofa agung. Dari awal sampai sekarang Raden Abraham ngeliatin Rani sambil pelintir-pelintir kumis.

“Ini kalau saya boleh kasih nilai, KW super deh anak Bapak” ujar Raden Abraham.

“Kurang ajar emang anak gw barang palsu apa. Ah yaudah yang penting dagangan gw laku.” pikir Papa Agung.

“Maaf Pak, kok saya pernah liat bapak di mana… gitu saya lupa. Apa bapak pernah muncul di Tv? Family 100 mungkin?” tanya Rani.

“Heh ngaco kamu ! sony tulung ga kayak gini!” ujar Papa Agung.

“Ini sih lebih mirip tukang bakso.”pikir Papa Agung.

“ Hahaha mungkin saya mirip Ari Wibowo kali ya Dek Rani.” Jawab Raden.

“HAH?!! Mending gw minum baygon.” jawab Rani kaget.

“Mending minum apa?” tanya Raden ga kedengaran.

“Mending saya minum jus melon” jawab Rani ngeles.

“Oke-oke, pokonya saya suka anak ini! Saya mau nikah sama anak ini! Kapan bisa diselenggarakan pernikahan kami Pak Agung?” Tanya Pak Raden bangkit dari sofa agung.

“Secepatnya!” ujar Mama Agung tiba-tiba. Mama Agung mendadak bisa bersuara lagi.

“Mama?! Kamu sudah sembuh Ma?” tanya Papa Agung kaget

“Duh gimana nih lelly sagita idup lagi.” Pikir Papa Agung.

“Mama bisa bicara lagi?! Tapi kok mama suruh Rani nikah cepet-cepet sih?!” tanya Rani kaget.”

“Iya , Mama ingin kamu nikah secepatnya Nak, Mama capek dengan ketidakagungan ini.!” Ujar Mama Agung.

“Sudah-sudah. Saya mau pergi dulu. Anak sama mantan Istri saya menunggu.” Ujar Raden sambil berlalu meninggalkan mereka.

“APA GW BAKAL NIKAH SAMA DUDA ANAK SATU?” pikir Rani dalam hati.

***

Setelah kepergian Raden Abraham, keluarga Agung dihebohkan oleh Mama Agung yang bisa bicara kembali dan berencana akan diadakannya tumpengan, potong pita dan pukul gong hari Sabtu mendatang. Karena hal tersebut, Rani disarankan tidak keluar pada saat weekend dan bawa bekal ke sekolah. Di sekolah kini Rani hanya bisa diam di kelas dan jadi ansos plus gak gaul.

“Ran, kok lo sekarang jadi begini sih?” tanya Fafa di kelas olahraga sambil jogging .

“Begini gimana?” Tanya Rani bingung.

“Ya jadi.. gak segaul biasanya aja.” Jawab Fafa.

“Cukup. Gw ke sekolah bukan untuk gaul tapi untuk belajar!” jawab Rani sok pintar.

“Ran! Rani!” Ternyata Janu yang panggil-panggil Rani sambil jogging.

“ Ngapain lagi lo?” tanya Rani galak.

“Gw pingin kita kembali lagi ke awal Ran!” ujar Janu.

“Capek Ah gw udah lari 300 Meter Nih!” jawab Rani.

“Bukan itu Ran! Maksud Gw, hubungan…” ujar Janu belum selesai.

“Bruk” ternyata Janu jatuh di kubangan tanah.

“Ih- Ih Bau Ih Bau tanah“ ujar anak-anak satu kelas sambil mengerubungi dan berhenti jogging.

Tiba-tiba Mas Ari dari kejauhan muncul dan mengangkat Janu dari kubangan tinja. Janu yang mukanya berlumuran tanah baru menyadarai setelah dia bangkit yang membantu dia berdiri itu Mas Ari. Janu langsung mebrontak.

“Bukannya lo seneng kalo gw masuk kubangan tanah huhuhuhu?” Tanya Janu sambil nangis.

“Ya enggaklah, mana mungkin saya senang kalau anak..” ujar Mas Ari belum selesai.

“Papaaaa!!huuuhuhuhuh aku sayang Papa Ari” tiba-tiba adegan yang cukup tidak bisa terlupkan. Janu memeluk Mas Ari didepan semua anak-anak sekelas.

“Anak murid maksudnya” pikir Mas Ari bingung dan sudah berlumuran tanah di bajunya.

***

Akhirnya hari Sabtu, hari yang special buat Mama Agung pun tiba. Kediaman keluarga Agung pun sudah dihias, tumpeng pun sudah siap, pita sudah siap, gong pun sudah disewa, bahkan badut pun sudah disewa. Rumah Kediaman keluarga Agung kali ini dipenuhi tamu-tamu special, seperti Raden Abraham pun diundang.

“Terimakasih Raden sudah mau datang ke acara kami.” Ujar Papa Agung.

“Ah gapapa saya lagi banyak waktu, dan kebetulan saya juga membawa anak laki-laki saya ke sini. Mungkin nanti mantan istri saya menyusul ke sini” Ujar Raden.

“ Oh ini ya, wah .. kereng sekali ya.. hahahah tapi gapapa ganteng kok” ujar Papa Agung melihat anak Raden.

“Iya salim Nak!” perintah Raden kepada anak laki-lakinya. Tiba-tiba dari kejauhan Rani muncul.

“JANU?! KOK LO ADA DI SINI?!” Ujar Rani kaget .

“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Raden kaget.

“Dia mantan pacar Janu, Pah.” Jawab Janu.

“APA? Kenapa kalian putus?” tanya Papa Agung tidak terima.

“Dia mungkin memang mantan pacar kamu, tapi dia akan jadi calon Ibu baru kamu. HAHAHAHA” ujar Raden dengan tawa om jin ver 4.

“APA?! JADI…. RADEN ABRAHAM INI PAK ABRA? PAK ABRA KETUA YAYASAN TRISULA?!” tanya Rani kaget dan panic campur2.

“APA KAMU ANAK MURID TRISULA? Gapapa juga sih saya tetap mau sama kamu Ran.” Ujar Pak Abra sambil plintir2 kumis.

“Anak sama bapak sama aja” pikir Rani dalam hati.

Tiba-tiba muncul dari kejauhan sosok wanita cantik berbadan seksi ala Zarima siapa lagi kalau bukaaan… Bu Sani dan tidak jauh dari situ muncullah sesosok laki-laki tampan putih-putih bibir merah siapa lagi kalau bukaaaan… Mas Ari!

“Halo Janu anakku, halo juga mantan suamiku. Mana calon istrimu Bra?” tanya Bu Sani pada Pak Abra alias Raden.

“Ini calon istri baruku, mantan pacar anakku. Rani Agung” ujar Raden.

“Apa? Kamu akan nikahi anak kunyit ini?” tanya Bu sani.

“Heh Saniah, memang kamu aja yang bisa pacari pria tampan seperti Pak Ari.”

Mas Ari yang baru datang masih bingung dengan percakapan ini.

“Rani.. apa benar kamu akan menikahi Pak Abra?” tanya Mas Ari kaget.

“enggak Rani ga mau nikah sama Pak Abra!” jerit Rani. Tiba-tiba suasana jadi hening. Mama Agung yang tadinya lagi makan pecel lele pake tangan bersama teman arisannyapun berhenti sejenak.

“Rani, mau jadi apa kamu huh hah huh hah? Terus kalau ga nikah sama Pak Abra kamu huh hah mau nikah sama siapa?! ” tanya Mama Agung kepedasan.

“SAMA MAS ARI!” jawab Rani lugas dan terpercaya.

“HAH?” semua orang heboh .

“HAH SIAPA? ARI SIAPA?”

“ARI WIBOWO? ARI UNTUNG? ARI REBO?”

“ih ari siapa ?” tiba-tiba semua orang terdengar heboh dan bisik-bisik.

“Mana orangnya?!” tanya Mama Agung.

“Saya orangnya Bu.” Ujar Mas Ari dengan lugas sambil menggandeng tangan Rani.

“Alhamdulillah ganteng.” Ujar Mama Agung sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Tapi tidak lama setelah itu…

“A… Panas Panas Panas.” Jerit Mama Agung, ternyata mama agung lupa kalau tangannya masih banyak sambelnya.

“Bu-bu gapapa bu?” semua Ibu-ibu panik.

No comments:

Followers

Traffic

About Me

My photo
being 18th and legal

Ads